Opinion

Don’t burn the bridge!

“People you meet on your journey may not give you direct answers, but listen and observe. Everyone on your path presents a lesson for you.” (Sheila Burke)

Rasanya sih, semua orang tau pentingnya networking. Nambah teman, memperluas pergaulan. Sampe-sampe kebanyakan event bikin kegiatan berjejaring ini jadi satu sesi sendiri: networking session! Entah itu bentuknya coffee break sampai yang di-set pake ice breaking segala. Mulai dari yang sekedar tukeran kartu nama terus lupa, sampai yang beneran ketemu lagi di kemudian hari terus bikin kolaborasi.

Networking emang penting. Buat bisnis, maupun buat yang lain-lain. Tapi kadang, kita terlalu haus pengen punya kenalan baru sampai lupa sama temen yang dulu-dulu. Jor-joran memperluas lingkaran, nggak sadar kalau lingkaran yang kita punya sebelumnya udah keputus duluan.

Baca juga: Mau ‘Jalan di Tempat, Grak!’ atau ‘Maju, Jalan!’?

Saya selalu percaya kalau kita nggak boleh membakar jembatan. Never burn the bridge. Nggak peduli kita udah selesai nyebrang, atau sesimpel karena jembatannya jelek dan kita nggak suka.

“Bridge” – lazimnya dibilang tali silaturahim sama orang. Menjaga tali yang satu ini, emang susah-susah gampang. Kita nggak bisa seenaknya datang kalau butuh doang, nggak bisa seenaknya nggak bales sapaan atau sekedar lupa hari ulang tahun orang. Nge-sms cuma pas lebaran, itu pun modal pesan broadcast-an. Kayak gitu dibilang teman?

Kalau dalam strategi militer, ungkapan “Don’t burn your bridges behind you” berarti merangsek maju di medan, tapi tetap memastikan bahwa ada jalan terbuka yang bisa diambil untuk mundur dalam keadaan terdesak. Kalau istilah sipilnya sih, “jangan bakar jembatan” ya maksudnya mbokya jangan me-nol-kan kontak dengan seseorang, baik itu sifatnya personal atau profesional. Jangan merusak hubungan, dan menghancurkan kemungkinan kerjasama di masa depan. Ada reuni? Datang! Diajak ngumpul, jangan sok sibuk. Dimintain bantuan, jangan congkak apalagi jual mahal.

Baca juga: Kreativitas Bukan Barang Eksklusif

Mantan rekan kerja, bos, karyawan, kontributor, freelancer, atau sekedar mitra profesional yang kita temui di event kerjaan bahkan di jalan, semua resource ini jangan dilepas. Nggak ada yang tau kalau suatu saat nanti, koneksi-koneksi ini jadi benang merah yang menghubungkan kita dengan peluang, entah apa. Kolaborasi, re-employment, job referral, job reference, atau sekedar koneksi pribadi.

Hobi saya jalan-jalan. Kalau ketemu orang baru, salah satu hal yang saya pertimbangkan adalah apakah orang ini bisa diajak pergi bareng, kapan-kapan. It works. Banyak temen jalan atau penyelamat perjalanan saya adalah orang-orang yang hidupnya pernah beririsan dengan saya di masa lalu. Kita nggak akan nyangka bahwa yang sekarang kayak nggak penting, suatu saat keberadaannya bisa sangat esensial. Atau, menjembatani kita dengan hal-hal besar yang akan mengubah hidup kita selamanya. Haha, who knows?

Baca juga: Jangan Asal Nurut Orangtua

Bule-bule yang tampak bahagia ngumpul dan ngebir bersama: silaturahim! (image: huffintonpost.com)

Koneksi itu seperti koleksi. Tapi bukan yang dipajang di lemari kaca sampe debuan, melainkan yang kita jaga terus-terusan. Berhubung udah era internet, hal kayak gini jadi mudah aja. Ada social media yang bisa dimanfaatin untuk sekedar nge-love postingan orang atau komen nanya kabar. At least kontak nggak sepenuhnya hilang, meski tatap muka ya jarang-jarang. Karena meski hidup kita dulu beririsan dan sekarang enggak, bukan berarti akan selamanya hilang irisan.

Kalo saya percaya nggak ada yang kebetulan, termasuk sama siapa aja kita dipertemukan. Semua punya alasan. Mengutip Sheila Burke, “People you meet on your journey may not give you direct answers, but listen and observe. Everyone on your path presents a lesson for you.”

Baca juga: Sistem Pendidikan Indonesia yang Menyesatkan

Header image credit: myjourneyoffaithmagazine.com