Story

Cita-cita: Mati Dikenang Menjadi Nama Jalan

Baru-baru ini Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-71. Jika dibandingkan dengan umur manusia, 71 tahun bisa diartikan umur yang sangat tua. Jika kamu merayakan ulang tahun yang ke-71, hal apa saja yang kamu harap telah kamu capai?

Banyak orang yang saya kenal tidak bisa menjawab dengan pasti pada saat saya menanyakan apa tujuan hidupnya dalam hidup. Sebagian lagi menjawab dengan sederhana, untuk menjadi kaya. Hanya sangat sedikit yang bisa menjelaskan dengan yakin apa yang ingin dicapai dalam hidup. Jadi, coba dijawab dengan jujur dalam hati, hidup ini buat apa?

Jika kamu belum mengetahui jawabannya, mungkin ini saatnya kamu mulai berpikir. Pikirkan setiap malam sebelum tidur. Jika kamu meninggal besoknya, kamu ingin dikenang sebagai manusia yang seperti apa? Atau memilih untuk dilupakan begitu saja? Atau memilih menjadi immortal saja? *apa sih*

Baca juga: Merayakan Kemiskinan

ppHidup selalu tentang pilihan. Tentang membuat pilihan. Baru kemarin saya bertemu dengan seorang teman baik. Kebetulan teman baik ini bekerja di sebuah perusahaan besar dengan menempati posisi yang tinggi. Berulang kali teman baik ini mengulang kalimat “hidup selalu tentang pilihan”. Di perusahaan tempat dia bekerja, dia punya pilihan melakukan korupsi dan menjadi kaya raya, seperti yang dilakukan beberapa temannya. Tapi dia memilih hidup yang sederhana, tanpa korupsi. Biar hidup lebih tenang, begitu alasannya.

Nama saya Yansen Kamto. Seorang pria berparas lumayan, berkulit bersih, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Saya memilih hidup dengan perjalanan yang jarang dilalui orang banyak. Saya memilih membuka jalan bagi orang lain. Saya mau menjalani hidup yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Di umur saya yang baru menginjak 35 tahun ini, saya ingin menjadikan hidup saya sebagai jembatan bagi orang lain yang ingin berkarya dan memberikan solusi bagi orang lain. Asyik.

Setiap hari saya selalu berpikir melakukan hal yang lebih sulit dari hari sebelumnya. Selain gampang bosan, saya juga senang mencari tantangan baru. Saya menikmati sebuah proses melakukan hal baru yang memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Saya akan lebih berbahagia lagi apabila saya dapat membagikan pengalaman dan pengetahuan tersebut ke orang lain. Dibayar juga boleh, asal tidak dianggap motivator.

Baca juga: Pakarnya Koar-koar Ekosistem Startup Teknologi

Bagi saya, setiap detik (promosi detik.com) yang berlalu itu sangatlah berharga. Saya selalu berpikir bagaimana caranya mendapatkan satu hari yang lebih dari 24 jam. Saya selalu frustasi dengan konsep tidur yang bagi saya itu sangat mubazir. Pemborosan. Dan pemborosan itu dosa. Dosa itu masuk neraka. Neraka itu panas. Terusin aja sendiri…

Saya berusaha mendorong diri saya untuk melakukan hal baru yang bermanfaat bagi orang lain setiap harinya. Saya mendorong diri saya melebihi batas yang saya mengerti. Seperti menaiki anak tangga, saya selalu menantang diri saya menaiki jumlah anak tangga yang lebih tinggi setiap harinya. Melebihi apa yang fisik saya mampu. Melebihi apa yang otak saya bilang saya tidak mampu. Tiap kalo saya merasa kehabisan energi, di tiap kali itulah saya akan mendorong diri saya untuk tetap melangkah. Memaksakan diri. Saya anaknya juga suka dipaksa. #kode

Saya tidak menyukai status quo. Saya tidak setuju dengan pemborosan waktu. Saya menganut konsep progresif. Setiap hari harus saya isi dengan kemajuan. Saya dianggap sakit jiwa. Saya mungkin sakit jiwa. Saya mungkin workaholic, namun tidak alcoholic. Tapi saya menjalani hidup ini dengan sepenuh hati. Bahasa Jawanya, “live life to the fullest”. Saya bahagia. Saya tidak pernah merasa bekerja seharipun. Beginilah hidup, bagi saya.

Baca juga: Cari Partner dengan Skill Berbeda, Tapi Punya Visi yang Sama

Saya tidak ingin menjalani satu haripun tanpa berkarya. Jika kelak saya bisa menjalani hidup hingga umur 71 tahun, saya mau dikenang sebagai Yansen Kamto yang bisa membantu semua manusia Indonesia bisa makan, semua bisa bekerja, semua bisa hidup dengan sejahtera. Saya tidak mau menyia-nyiakan satu jam, satu hari yang berlalu. Ingat, pemborosan. Masuk neraka.

Saya memilih tidak mau dilupakan. Saya memilih ingin dikenang sebagai pria berparas lumayan, berkulit bersih, bertanggung jawab, dan penuh perhatian yang mau berkarya buat bangsa ini. Menjadi seorang pahlawan, menjadi nama jalan, menjadi nama bandara, atau sekedar menjadi pemenang di hatimu.

Dirgahayu Indonesia ke-71. Merdeka.