Story

Q&A: Ibu Guru Kembar, Berbagi Cinta Lewat Pendidikan

“Pendidikan saat ini kan tidak berkeadilan, karena banyak orang campur tangan dengan kepentingan masing-masing. Sebagai contoh saja, orang dulunya pengangguran atau preman, nggak sekolah ikut partai. Atau juga penyanyi dangdut dan para pelacur ikut partai terus nanti jadi DPR. Lha apa kita ini akan dipimpin oleh pelacur dan preman? Itu gambarannya sekarang.” – Ibu Guru Kembar

Ngomongin soal pendidikan untuk kaum marginal di ibukota pastinya banyak yang udah gak asing lagi melihat profil sepasang Ibu Guru Kembar, Sri Rossyati (Rossy) dan Sri Irianingsih (Rian) di televisi dan media massa. Hingar bingar kedua Ibu Guru Kembar selama 25 tahun belakang ini telah menorehkan sejarah dalam mencerdaskan generasi emas bangsa. Di sela kesibukan mengajar, Ibu Rian, didampingi Ibu Rossy, menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Ziliun mengenai aktivitas Sekolah Darurat Kartini dan seputar dunia pendidikan.  

Image credit: adjatwiratma.wordpress.com

Bisa diceritakan apa yang melatarbelakangi Ibu Guru Kembar membuat Sekolah Darurat Kartini?

Yang melatarbelakangi kami berdua membuat sekolah itu adalah banyaknya anak-anak kaum marginal yang tidak sekolah. Maka, kami berdua memutuskan untuk berbagi cinta kasih kepada anak-anak kaum marginal melalui sebuah pendidikan. Hal ini akan mengangkat harkat, martabat dan derajat anak marginal, serta agar mereka bisa menjadi warga negara Indonesia.

Mereka selama ini tidak bisa menjadi warga negara Indonesia karena mereka tidak mempunyai identitas seperti akte kelahiran, kartu tanda penduduk, dan kartu keluarga. Setelah lulus, mereka akan mendapatkan ijazah, bisa mengurus akte kelahiran dan KTP.

Baca juga: Donny Eryastha dan Indonesia Mengglobal: Untuk Indonesia Lepas Landas

Sudah lama saya memiliki sekolah ini, dulu bermula ketika saya (Ibu Rian) masih di Lombok dan Ibu Rossy di Kalimantan. Di sana tidak ada orang-orang yang bersekolah, makanya saya mendirikan sekolah di bawah pohon. Nah, kalau Ibu Rossy, ia mendirikan sekolah di pinggir sungai di Kalimantan Timur sana sejak tahun 1972. Kini sekolah tersebut sudah menjadi sekolah negeri.

Menurut Ibu-ibu guru, bagaimana alternatif terbaik untuk sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini?

Pendidikan itu, melalui sebuah pendidikan akan membentuk manusia menjadi beradab tentunya. Bisa tumbuh intelektual, kecerdasan, berbudi luhur, berkarakter, dan mencintai sesama manusia.

Sistem pendidikan di Indonesia itu sistemnya sudah baik, hanya saja SDM atau pengajarnya belum memadai. Jadi mengajar itu bukan hanya memberikan ilmu, tapi juga membentuk watak anak-anak. Nah, itu diperlukan seorang guru yang mempunyai cinta kasih terhadap anak-anak didiknya. Bukan asal mengajar, selesai mengajar ya sudah pulang. Mengajar itu harus memakai cinta kasih agar anak-anak itu juga memiliki cinta kasih.

Siapa saja pihak yang terkait dalam sistem pendidikan Indonesia, dan apa yang seharusnya mereka lakukan?

Tentunya, Kementerian Pendidikan harus mempunyai tenaga pengajar, guru-guru dan SDM yang memadahi, yang punya integritas, cinta kasih, yang memberikan semua ilmunya, tidak hanya yang ‘Ah sedikit saja ah, kan dia cuman murid’. Itu namanya tidak ikhlas, memberikan ilmu kepada anak didik itu harus ikhlas. Itu yang saya lihat di Indonesia, belum banyak pendidik yang tidak ikhlas. Ada yang ikhlas, ada yang tidak ikhlas seperti mereka yang selesai mengajar pulang, mengajar hanya karena gaji.

Baca juga: Alasan Pendidikan Finlandia Terbaik di Dunia: Equality of Opportunity

Di Sekolah Darurat Kartini, selain saya dan Bu Rossy ada pengajar lain. Pengajar kami bukan para pengangguran, mereka sudah bekerja dan berpenghasilan, ada yang sudah menjadi dokter spesialis mengajar kesehatan misalnya. Mereka punya waktu di hari Sabtu untuk mengajar di tempat kami. Minimal S2 yang mengajar di sini, mereka datang dengan mobilnya sendiri, punya rumah, sudah makan, jadi mereka tidak menumpang pada orang miskin.

Pengajar di sini tidak digaji, kami tidak mau ada pengajar yang tidak berdedikasi pada pendidikan. Kalau niatnya mengajar untuk mencari uang, saya tidak mau. Bukan membedakan, tapi saya tidak mau ada orang mencari uang dengan mengatasnamakan orang miskin. Di sini guru hanya ada 11 orang, mereka sudah punya pekerjaan masing-masing.

Kalau mereka libur bekerja, mereka bilang kepada kami berdua untuk kapan bisa mengajar di sekolah. Jadi mereka benar-benar mengamalkan kepandaiannya kepada orang yang tidak mampu, jadi tidak menjadi beban karena pengajar tersebut sudah bisa berdiri sendiri.

Image credit: dihapusbloggnyadonk.blogspot.com

Apa yang seharusnya diubah dari sistem pendidikan Indonesia selain SDM pengajarnya?

Bisa diubah tentang uang-uang yang ada di kementerian. Misalnya, ada dana untuk keterampilan, atau program yang sedang dijalankan tetapi uang untuk membiayai program tersebut tidak sampai ke bawah. Nah, itu adalah sistem yang dibawa oleh para pegawai negeri, yang merasa bahwa ketika mereka memegang uang, itu adalah uangnya sendiri, padahal itu sebenarnya adalah uang rakyat.

Kalau dalam pemikiran mereka seperti itu, ya susah! Rakyat yang kerja, dia pakai uang rakyat, dibayar pakai uang rakyat, masih maling lagi. Ini lebih kepada kesadaran mental, moral, dan karakter. Kalau atasan kita jujur, tapi kalau yang dibawah pencuri dan koruptor semua bagaimana?

Baca juga: “Naik Kelas” di Kehidupan Nyata

Pendidikan akan hancur, padahal pendidikan adalah tiang negara karena akan membentuk karakter dan jiwa manusia. Pendidikan saat ini kan tidak berkeadilan, karena banyak orang campur tangan dengan kepentingan masing-masing.

Sebagai contoh saja, orang dulunya pengangguran atau preman, nggak sekolah ikut partai. Atau juga penyanyi dangdut dan para pelacur ikut partai terus nanti jadi DPR. Lha apa kita ini akan dipimpin oleh pelacur dan preman? Itu gambarannya sekarang.

Di DPR itu, 30% yang baik, 70% itu ya ada preman ada pelacur. Saya juga nggak suka kok dengan partai-partaian, karena melalui sebuah partai seseorang bisa menjadi pejabat. Kita lihat, Jokowi, Ahok, Bu Risma, Ridwan Kamil, mereka adalah contoh yang baik. Masa hanya mereka yang baik?

Nah, itu kan tergantung moral. Berangkat dari rumah, dia berangkat dari mana? Kalau keluarganya mengajarkan kejujuran, misal seseorang menjadi Kepala Dinas Pendidikan, maka akan diberikanlah beberapa program untuk anak SMK, untuk anak kaum marginal. Kalau diberikan program itu, Indonesia akan menjadi tegak lurus.

Malah nggak dikasih kan, malah diambil sendiri. Anaknya sekolah di Australia bareng anak saya. Sekarang kalau dipikir, gaji pegawai negeri berapa? Biaya kuliah anak di Australia berapa? Uang biaya kuliah di Australia dari mana? Atau mungkin dia keturunan Majapahit yang punya uang emas koin satu peti?

Baca juga: Education is not the same as schooling

Bukan iri, tapi dia itu siapa? Kepala dinas kok bisa sekolahin anaknya ke Australia? Logika aja Mbak, karena memang sebagian besar adalah maling-maling, yang tidak hanya berapa persen saja. Makanya kan kasihan rakyatnya.

Nah, kalau saya semakin tidak mau mengajar mereka, apa orang Indonesia semakin goblok?

Kan ada, mahasiswa yang dikasih uang sama orangtuanya satu bulannya 25 juta? Masuk diskotik, narkoba. Lalu tahu-tahu menjadi DPR atau gubernur? Bagaimana begini bisa terjadi?

Makanya sudahlah, saya ngurusin kaum marginal saja. Mereka hidup di dunia sama-sama kita tapi kasihan–bukan nasibnya–tapi namanya penjajahan terhadap bangsanya sendiri.

Bagaimana masyarakat awam bisa berkontribusi untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik?

Semua bisa dimulai dari pembelajaran karakter di rumah. Karena kembali lagi jika anak mendapat pendidikan baik di sekolah tapi di rumah tidak, itu akan menjadi suatu kontradiksi terhadap anak didik.

Misalnya, di rumah si anak diajarin menjadi pencuri, sedangkan di sekolah tidak, dia bisa mengalami kontradiksi. Hal ini bisa menjadikan anak sakit lho! Bisa stress dia. Di sini guru yang berperan, karena anak tidak seharusnya menanggung beban mental, dan bertentangan dengan batinnya.

Di sini, saya yang menangani anak-anak seperti itu. Kebetulan saya psikolog, saya yang menangani dan memberi terapi mereka. Agak susah kalau bukan psikolog yang mengajar di masyarakat marginal. Kalau ilmu mengajar bisa kita pelajari, tetapi kalau seorang mengajar tidak memakai perasaan itu tidak bisa. Bisa berhasil itu karena mengajar memakai perasaan, semacam trik tersendiri untuk menangani anak-anak yang kompleks itu sendiri.

Header image credit: huffpost.com