Story

Q&A: Bukik, Pendidikan Bukan Alat Pelumas Obsesi Orangtua

“Tidak ada sistem pendidikan terbaik. Kalau bicara idealnya, konsep pendidikan harus dihapus dan diganti dengan konsep belajar.” – Bukik Setiawan.

Udah jadi rahasia umum kalau anak adalah generasi penerus sebuah negara. Maka kalau ingin menjadikan negara lebih baik lagi, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki akarnya.

Di kesempatan kali ini, tim Ziliun berkesempatan ngobrol bareng Bukik Setiawan, seorang ahli pengembang bakat anak, founder dari Indonesia Bercerita sekaligus penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong.

Image credit: youtube.com/Unasproject11

Apa yang melatarbelakangi Mas Bukik punya concern yang lebih terhadap isu pendidikan? Apakah karena ada pengalaman di masa lalu?

Saya besar di Papua, di sebuah desa yang tidak cukup menyediakan bahan bacaan untuk memenuhi kehausan saya akan bacaan. Saya melihat bagaimana pendidikan bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. Seburuk apapun, pendidikan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan kapasitasnya. Mungkin pendidikan yang buruk tidak membuat orang belajar, tapi dengan pendidikan maka ada banyak kesempatan bagi orang tersebut untuk belajar. Pendidikan buruk saja berdampak besar, apalagi pendidikan yang berkualitas.

Baca juga: Q&A: Ibu Guru Kembar, Berbagi Cinta Lewat Pendidikan

Selama menjadi mahasiswa S1, konsepsi saya mengenai pendidikan berubah. Dari pendidikan sebagai upaya mengubah orang bodoh menjadi orang pandai, menjadi pendidikan sebagai upaya membangun kesadaran kritis. Saya melihat banyak orang pandai yang justru membodohi masyarakatnya. Karena itu, saya terlibat dalam berbagai pelatihan mahasiswa maupun masyarakat desa. Tujuannya agar peserta pelatihan bisa mengkritisi kondisinya, menganalisis faktor-faktor penyebab kondisi tersebut dan bergerak melakukan perubahan.

Selama menjadi mahasiswa S2 dan dosen, konsepsi saya mengenai pendidikan bergeser lagi. Pendidikan adalah upaya mengenali potensi diri dan menggunakan untuk mewujudkan impian bersama. Pendidikan adalah bagaimana kita bisa mengkontribusikan potensi kita untuk mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik.

Bisa diceritakan apa insight yang melatarbelakangi Mas Bukik menjadi penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong?

Keresahan terhadap nasib anak-anak Indonesia. Saya miris melihat anak-anak dianggap sebagai kertas kosong yang dijejali obsesi orang dewasa. Anak-anak jadi kelelahan karena dituntut belajar yang tidak penting buat mereka. Anak-anak jadi robot yang patuh terhadap instruksi dari orang lain. Anak-anak yang tidak dapat kesempatan mengembangkan potensi dirinya.

Baca juga: Q&A: Nila Tanzil, Literasi Untuk Lentera Anak Bangsa

Dengan buku Anak Bukan Kertas Kosong, saya berusaha menggugah kesadaran orang tua bahwa anggapan anak adalah kertas kosong adalah anggapan keliru. Anak lahir dengan dua bekal, kemauan untuk hidup dan kecerdasan, yang membuat setiap anak menjadi pembelajar alami. Mengapa dilahirkan sebagai pembelajar, bukan peniru? Karena anak-anak adalah manusia masa depan yang menghadapi tantangan yang belum pernah diketahui oleh siapapun, termasuk orang dewasa.

Image credit: dweedy.blogspot.com

Bagaimana, menurut Mas Bukik, orang tua dapat berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan anak di Indonesia?

Belajar, belajar, belajar. Anak adalah sumber pembelajaran yang luar biasa. Andai bersedia bersikap rendah hati, orang tua dapat banyak belajar dari anak-anaknya. Bahkan pelajaran dari anak kedua pun berbeda dengan pelajaran dari anak pertama. Tidak ada sekolah buat orang tua, bukan karena tidak ada yang membuat, tapi karena tidak pernah ada guru yang lebih baik dari anak-anak.

Karena itu, orangtua wajib belajar, mulai dari sebelum hingga setelah menjadi orangtua. Lebih banyak mendengar. Bersikap rendah hati. Mencintai anak sepenuh hati.

Menurut Mas Bukik, bagaimana alternatif terbaik untuk sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini?

Tidak ada sistem pendidikan terbaik. Kalau bicara idealnya, konsep pendidikan harus dihapus dan diganti dengan konsep belajar. Pendidikan selalu mengandaikan ada yang mengajar, ada yang diajar. Dalam pendidikan, ada relasi kuasa yang asimetris atau timpang. Kenyataan hari ini, siapapun bisa belajar, siapapun bisa mengajar 😀

Baca juga: Ainun Chomsun: Di Social Media Tidak Ada Batasan Gender

Kalau bicara praktisnya, sistem pendidikan hendaknya memfasilitasi siapapun untuk terlibat dalam proses belajar dengan beragam peran. Karena itu, anak-anak butuh sistem pendidikan yang sederhana. Materi wajib yang sedikit. Cara belajar yang sederhana hingga bisa diakses oleh siapapun. Hapus semua kerumitan pendidikan yang seringkali justru jadi penghalang terjadinya proses belajar.

Siapa saja pihak yang terkait dalam sistem pendidikan Indonesia, dan apa yang seharusnya mereka lakukan sesuai porsinya masing-masing?

Kementerian Pendidikan: Menciptakan cetak biru dan kebijakan pendidikan yang sesimpel mungkin untuk memastikan setiap anak mendapat kesempatan belajar yang memadai dan berkualitas.

Dinas Pendidikan Daerah: Menjadi eksekutor yang efektif dan bersih/berintegritas. Jangan lagi Dinas Pendidikan dieksploitasi baik secara politik maupun sebagai sumber korupsi.

Orang tua: Menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya.

Masyarakat: Berkontribusi sesuai potensinya agar menjadi bagian dari proses pembelajaran secara luas.

Apa yang seharusnya diubah dari sistem pendidikan Indonesia?

Memangkas hambatan birokrasi pendidikan baik di pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, meningkatkan kualitas guru, menguatkan peran dan kualitas orang tua.

Bagaimana masyarakat awam bisa berkontribusi untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik?

Bila melihat inisiatif belajar yang inovatif, meski terkesan aneh, berilah dukungan sesuai kemampuan.

Header image credit: globalpeakeducation.com