Story

Pengajar Muda: Pendidikan itu Mencerahkan, Bukan Mengarahkan

Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Menteri Pendidikan kita yang sekarang, Bapak Anies Baswedan, dulu memulai sebuah gerakan bernama Indonesia Mengajar yang mengirimkan lulusan-lulusan universitas di Indonesia untuk mengajar di daerah-daerah pelosok selama setahun. Mereka yang berani merelakan setahun waktunya untuk pengabdian ini disebut Pengajar Muda.

Ziliun mendapat kesempatan ngobrol dengan dua orang Pengajar Muda, Naimah Lutfi (dulu mengajar di Kepulauan Sangihe) dan Anggun Piputri (dulu mengajar di Rote Nda) tentang pengalaman mereka dan pendapat mereka tentang pendidikan.

Naimah Lutfi. Image credit: indonesiamengajar.org

Apa yang melatarbelakangi kepedulian kalian terhadap pendidikan? Apakah sudah sejak dulu atau baru saat menjadi Pengajar Muda?

Naimah: Mengenai kecintaan terhadap dunia pendidikan, awalnya saya tertarik karena saat kuliah saya bersama beberapa teman aktif di rumah belajar untuk mengajar anak-anak kecil dengan lingkungan kurang mampu di sekitar Depok. Di rumah belajar, kami melakukan beberapa kegiatan informasi seperti kunjungan ke Ragunan, memperkenalkan satwa dan bagaimana mencintai satwa dan alam kepada mereka. Di sana saya sadar bahwa pendidikan itu mutlak penting dan wajib diberikan kepada semua orang, bukan hanya anak-anak, bukan hanya di sekolah. 

Setelah lulus, saya ikut Indonesia Mengajar, selama di desa penempatan (Kabupaten Kepulauan Sangihe), saya semakin sadar bahwa pendidikan memang kunci jika Indonesia ingin maju. Pendidikan itu bukan hanya pendidikan formal di sekolah, tapi juga pendidikan informal di luar sekolah. Pendidikan karakter, termasuk nilai nasionalisme, empati, integritas, dan mencintai lingkungan harus menjadi fokus dasar pendidikan kita.

Baca juga: Q&A: Ibu Guru Kembar, Berbagi Cinta Lewat Pendidikan

Anggun: Awalnya saya tertarik, karena ingin tahu tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Tahun 2009, salah satu sahabat saya sedang melakukan penelitian skripsi di salah satu sekolah ABK di Jakarta. Penasaran dengan isu tersebut, saya memberanikan diri untuk terlibat menjadi volunteer di SD Khusus Pantara sebagai guru pendamping kelas Intervensi Dini. Dari situ panggilan saya untuk terlibat di di dalam dunia pendidikan semakin besar. Setelah lulus dari FISIP UI saya langsung mendaftar sebagai Pengajar Muda angkatan IV.

Seseorang pernah mengatakan “Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik” . Sebagai seorang terdidik yang memiliki cukup ilmu yang diemban dari TK sampai Universitas. Tak cukup sebatas berbagi ilmu, motivasi terbesar saya adalah menjadi bagian dari Indonesia, dengan menjadi Pengajar Muda menurut saya ini adalah caranya terlibat langsung untuk kemajuan pendidikan di negeri yang kita cintai. Saya menyadari bahwa sebagai manusia kita tak harus cukup dulu (materi, kemapanan, dan lain-lain) untuk berbagi kepada orang lain. Walaupun sederhana selama dilakukan dengan ketulusan akan memiliki dampak positif.

Adakah realita-realita pendidikan Indonesia yang baru ditemukan atau sadari setelah menjadi Pengajar Muda?

Anggun: Banyak sekali, terutama realita tentang kemampuan akademis di Pulau Rote Nda, tempat saya mengabdi selama 1 tahun. Rata-rata siswa Sekolah Dasar memiliki kelemahan dalam calistung, bahkan sampai kelas 4 SD belum lancar perkalian. Selain itu keterbatasan jumlah dan kemampuan guru sebagai pendidik. Guru-guru di penjuru Indonesia tidak banyak yang lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), mereka sebatas lulusan SMA sederajat yang lalu melamar sebagai PNS guru. Adapun realita yang lain adalah jumlah sekolah yang tidak merata, jumlah SD – SMA memiliki ketimpangan yang luar biasa yang menyebabkan banyak putus sekolah. Di Kecamatan Rote Barat Laut, ada sebelas SD, tapi hanya ada dua SMP dan dua SMA/SMK.

Baca juga: Muhammad Iman Usman, Bangun Pendidikan Berkualitas dengan ruangguru.com

Naimah: Pendidikan itu mencerahkan, bukan mengarahkan. Misalnya di daerah penempatan saya, pulau Beeng Darat, Sangihe, mayoritas masyarakat adalah nelayan, sisanya bekerja ke kebun atau PNS (guru, suster bantu). Anak-anak sudah terbentuk pola untuk menjadi nelayan atau suster. Itu bukan hal yang salah tentu, tapi mereka berhak melihat ada kesempatan lain. Masih banyak profesi lain selain profesi yang mereka lihat. Karena itu saya dan teman-teman Pengajar Muda Kabupaten Sangihe membuat Festival Anak Sangihe, mengundang anak-anak dari beberapa pulau untuk hadir ke ibukota Kabupaten Sangihe. salah satu kegiatannya adalah Hari Cita-cita. kami mengajak mereka ke rumah sakit, kantor polisi, markas TNI, kantor siaran RRI, bank, DPRD, dan sebagainya. 

Menurut kalian, apa tujuan dan output dari pendidikan?

Naimah: Pendidikan adalah proses yang tidak akan berhenti sepanjang kita masih hidup. Pengalaman pun mendidik kita dalam tataran tertentu. Orang yang terus belajar tidak akan pernah merasa cukup.

Anggun: Pendidikan adalah eskalator kemajuan terutama kemajuan suatu bangsa. Kemiskinan bermula dari kebodohan. Pendidikan akan menghantarkan kita pada kemajuan dalam memperoleh kesejahteraan serta menjadi pilar utama terciptanya suatu masa depan yang cemerlang.

Anggun Piputri. Image credit: indonesiamengajar.org

Sistem pendidikan seperti apa yang ideal untuk Indonesia?

Naimah: Sedikit tergambar di jawaban saya sebelumnya (Pendidikan itu bukan hanya pendidikan formal di sekolah, tapi juga pendidikan informal di luar sekolah. Pendidikan karakter, termasuk nilai nasionalisme, empati, integritas, dan mencintai lingkungan harus menjadi fokus dasar pendidikan kita).

Baca juga: Anak Bangsa Jadi Tukang di Negeri Orang, Kenapa Bangga?

Anggun: Sistem pendidikan yang ada saat ini menurut saya sudah cukup ideal bagi Indonesia. Hanya saja yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah kepedulian terhadap pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, pendidikan menjadi tugas kita semua sebagai warga Negara Indonesia. Menurut saya yang harus digaungkan bersama adalah pendidikan adalah sebuah gerakan. Bahwa gerakan adalah sebuah ikhtiar untuk melakukan perubahan dengan terlibat langsung secara kolaboratif, dengan melibatkan seluruh stakeholders yang ada, mulai dari masyarakat sampai level pemerintahan tertinggi.

Bagaimana masyarakat awam bisa turut berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia?

Anggun: Menjadikan pendidikan sebagai gerakan semesta. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kita tak perlu cukup dulu untuk bisa berbagi. So, dari apapun yang kita punya, selama itu bisa memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan, yuk kita lakukan bersama-sama. Sesederhana dengan menyebarkan informasi tentang “UN Jujur”, misalnya.

Naimah: Setiap orang bisa berkontribusi untuk memajukan pendidikan Indonesia. Dari mulai hal besar hingga hal yang kecil. Misalnya dengan aktif di kegiatan sosial pendidikan, kemasyarakatan, penggalangan dana atau buku, atau bahkan sekedar membantu menyampaikan pesan cinta kepada anak Indonesia. Sebagai contoh, saya mendukung kegiatan Sabang Merauke, yakni mengundang anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia untuk datang ke Jakarta selama lebih kurang dua minggu, dan berkegiatan di Jakarta. tahun lalu saya menjadi orangtua angkat dari anak bernama Rika Sasmita yang berasal dari sebuah desa di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Melalui program Sabang Merauke, kakak asuh dan orangtua asuh, diperkenankan memperkenalkan nilai-nilai kebhinekaan, nasionalisme, dan integritas pada anak-anak tersebut. Intinya, kita bisa melakukan apapun untuk membantu Indonesia agar maju! 🙂

Header image credit: morinmorefun.wordpress.com