Featured

Tentang Perempuan dan Entrepreneurship

Siapa yang tidak kenal salah satu female leader paling hebat di Indonesia saat ini, yaitu Ibu Tri Rismaharini? Selain prestasinya pada 2015 dinobatkan sebagai runner-up World’s Mayor Prize dan masuk ke daftar Fortune’s World’s Greatest Leaders, akhir tahun lalu Walikota Surabaya ini dinobatkan sebagai peringkat 2 dari Startup Nations Award for Local Policy Leadership 2016 oleh Global Entrepreneurship Network!

Ini bukan nominasi abal-abal, melainkan memang penghargaan yang setimpal bagi kiprahnya dalam menggalakkan program untuk mendorong hadirnya lebih banyak entrepreneur, seperti Pahlawan Ekonomi, Tatarupa, dan Start Surabaya.

Tahukah kamu, dari +3020 UKM mendapatkan pembinaan pemberdayaan ekonomi warga di program Pahlawan Ekonomi, sebagian besarnya adalah ibu-ibu rumah tangga yang membuat produknya sendiri?

Awalnya, kebanyakan para ibu rumah tangga ini tidak memiliki kemampuan wirausaha seperti menjahit dan sebagainya, namun Ibu Risma yakin, jika mereka menggelutinya dengan serius, akan menghasilkan produk yang baik dan dapat meningkatkan kesejahteraan.

Tak hanya diberi pelatihan khusus setiap minggu, para pelaku UKM di Pahlawan Ekonomi yang terpilih dikolaborasikan dengan desainer di program Tatarupa, sebuah program pemberdayaan UKM, yang diinisiasikan bersama dengan Kreavi.com, untuk rebranding produk yang akan meningkatkan value dari produk mereka agar tidak dipandang sebelah mata.

Ziliun.com berkesempatan untuk berbincang dengan Bu Risma dan membahas pandangan beliau mengenai perempuan dan leadership.

Ziliun (Z): Apa sih Bu, tantangan menjadi pemimpin perempuan saat ini?

Bu Risma (R): Saya kira sama aja lah ya. Warga kita udah gak bedain pemimpin laki-laki atau perempuan. Menurut saya, justru pemimpin perempuan banyak untungnya. Kalau anak-anak kecil, anak-anak sekolah itu kan deket sama aku. Kalau aku laki-laki, mungkin susah deketin mereka. Yang perempuan itu ada yang aku suruh jadi kepala Dinas Pemadam Kebakaran, kepala Dinas Pekerjaan Umum, buktinya juga gak apa-apa. Malah sekarang responnya lebih cepet kalau ada kebakaran atau apa.

Baca juga: Tri Rismaharini: Integritas, Konsisten, Peduli

Z: Selain bisa lebih mudah dekat dengan orang-orang, apa lagi kelebihan perempuan saat memimpin, dibandingkan dengan laki-laki?

R: Aku gak ngerasa itu kelebihan, tapi mungkin itu udah dari sononya gitu ya. Contohnya misalkan, kita (perempuan) kan biasa mikir macem-macem. Itu bikin jadi lebih mudah. Kalau dalam waktu bersamaan ada macem-macem masalah, kita udah biasa, karena udah biasa berpikir macem-macem saat ngurusin rumah.

Z: Di samping kelebihan-kelebihan tersebut, di masyarakat sendiri kan masih banyak stereotipe ya Bu, kalau perempuan yang memimpin itu bossy. Jadi perempuan banyak yang takut speak up.

R: (Penilaian masyarakat) itu tergantung. Kalau misalkan kita mau diterima orang, kita harus menyesuaikan, bukan orang lain menyesuaikan kita. Kalau aku, misalkan, di depan anak-anak, aku kadang jadi seperti ibu, kadang seperti guru, kadang seperti teman, kayak gitu. Jadi, di semua hal saja, kalau mau bisa diterima ya itu, harus kita sesuaikan, bukan orang lain yg menyesuaikan ke kita.

Baca juga: Jangan Mau Punya Mental PNS!

Z: Ibu kan fasih banget menggunakan teknologi di pemerintahan. Sementara banyak perempuan ga pede, merasa ga ngerti karena anggapannya teknologi bukan ranah perempuan.

R: Tujuannya kan untuk mempermudah kita bekerja, bukan untuk gaya-gayaan atau lifestyle atau apa, ya bukan. Ini adalah untuk memudahkan kita bekerja. Itu yang pertama.

Ya yang kedua, aku pun juga awalnya ga bisa, kenapa kita harus malu untuk belajar. Ini gimana caranya, aku belajar dari anak-anak, dari stafku, kenapa harus malu. Awalnya aku juga ga ngerti sama sekali. Aku juga belajar istilah-istilah dari anak programmer.

Misalnya, aku bilang ke anak-anak, “Gini lo maksudku, jangan sampe orang itu masuk lalu ngerusak (sistem) ini.”

“Oh, Bu, itu namanya hacker.”

Jadi sekarang seolah-olah paham, awalnya juga belajar.

Z: Bicara tentang entrepreneurship Bu, kita perlu gak punya lebih banyak entrepreneur perempuan?

R: Sama saja (entrepreneur perempuan atau laki-laki). Tinggal mau gimana, untuk apa tujuannya. Ada yang bisnis cuma karena bosen, boring di rumah. Ada yang memang ingin punya arti untuk orang lain. Yang ingin punya arti untuk orang lain, kalo semakin banyak semakin bagus.

Ada yang memang bisnis untuk dirinya sendiri. Tapi kalau itu untuk orang lain, dia akan berpikir untuk orang lain, akan bisa kasih pekerjaan ke orang lain, akan juga bisa membantu orang lain, meringankan beban orang lain. Itu kan bagus daripada kalo sekadar gitu aja. Di situ dibutuhkan kerja keras biar yang terbantu itu lebih banyak lagi.

“Coba misalkan aku mau punya usaha apa. Kalo aku enak-enakan aja cuma dua orang yang bisa aku bantu. Kalo aku kerja keras, hasilnya menjadi besar, bisa lima sampai sepuluh orang yang bisa aku bantu. Lima orang ini, dia punya keluarga, punya anak, jadi banyak sekali yang bisa dibantu.” – Tri Rismaharini

Gimana? Apakah semangat berkaryamu mulai terbakar? Atau merasa terinspirasi namun belum menemukan formula yang tepat untuk bisa mencapai visi dari idemu sendiri?

Jika “belum” adalah jawaban yang muncul di kepalamu, ini adalah kesempatan paling tepat untuk mendapatkannya secara langsung dari Ibu Risma dalam acara Creativepreneur Corner yang akan diadakan di The Hall Senayan City pada Sabtu, 4 Februari 2017.

Selain Ibu Risma yang akan hadir di sana, kamu pun bisa mendapatkan formula baru lewat perspektif yang berbeda-beda dari sosok lain yang tentunya tidak asing untukmu, seperti:

  • Tulus yang akan menceritakan perspektifnya sebagai co-founder dari Tulus Company.
  • Leonika Sari selaku CEO dari Reblood yang juga masuk dalam Forbes 30 under 30 Asia, BBC 100 Women, dan TEMPO Perempuan Penembus Batas.
  • Alfatih Timur, CEO & Co-founder Kitabisa.com, sebuah platform crowdfunding untuk menggalang dana untuk berbagai project terutama yang bertujuan sosial, yang juga dipilih menjadi Forbes 30 under 30 Asia.
  • Nilam Sari dengan formula apiknya dalam membesarkan Kebab Baba Rafi.
  • Dan masih banyak lagi sosok yang pastinya akan membuatmu bisa menciptakan formulamu sendiri dari berbagai perspektif.

Sejak kali pertama menginspirasi banyak anak muda pada tahun 2013, Creativepreneur Corner yang pada tahun ini menyajikan konsep baru, yaitu “Science Lab”, ini pun memungkinkan kamu untuk ngobrol hingga memberikan tantangan secara langsung dengan para pembicara sehingga kamu bisa mengetahui pemikiran mereka lebih dalam.

Untuk kamu, perempuan yang ingin atau sedang menjalankan bisnismu sendiri, saatnya belajar lebih banyak dari sosok-sosok hebat yang hadir di sini!

Penasaran? Lihat selengkapnya di sini: creativepreneurevent.com