Insight

3 Hal yang Dibutuhkan Industri Komik Indonesia

Industri komik Indonesia saat ini lagi mulai bertumbuh lagi. Setelah dulu kita diinvasi besar-besaran sama komik Amerika, lalu sama komik Jepang, dengan bantuan social media, komikus-komikus lokal bisa memperkenalkan komiknya dan membentuk fan base dengan lebih mudah.

Tapi, namanya industri masih bertumbuh, perjalanan untuk menuju kedewasaan masih panjang banget. Insight yang Ziliun dapetin dari obrolan singkat dengan Irfan Ihsan dan Donny Gandakusuma–kreator komik Macan Putih–di Popcon Asia kemarin memberikan gambaran bahwa industri komik kita membutuhkan setidaknya tiga hal:

Image credit: dok. Popcon Asia
Image credit: dok. Popcon Asia

Rak Prioritas di Toko Buku untuk Komik Lokal

Visibility dan discoverability suatu komik di medan perang sesungguhnya, yaitu toko buku, tanpa disadari penting banget buat kemajuan komik lokal. Menurut Irfan dan Donny, sangat sulit bagi komik lokal untuk bertahan di rak buku Indonesia. Alasannya adalah karena toko buku kerap hanya memajang komik impor saja. Makanya, dukungan distributor penting banget untuk masalah rak-rakan ini.

Baca juga: Infografik: Perjalanan Industri Komik Indonesia

Kesabaran Penerbit

Namanya juga usaha, ya, gak akan langsung untung instan. Apalagi karya kreatif, yang butuh waktu untuk dikenal dan akhirnya disukai orang. Nah, menurut Irfan dan Donny, kebanyakan penerbit masih belum paham bahwa nilai  komik itu bisa lebih besar, seandainya mereka lebih bersabar mendukung komik tersebut.

Biaya produksi komik itu tidak murah, karena dalam pembuatannya sendiri umumnya melibatkan lebih dari satu orang (misalnya, ada writer, penciller, inker, colorist, dan lain-lain). Menggambar itu juga butuh waktu lama. Otomatis, penjualan komik awalnya hampir pasti belum menutupi biaya produksi.

Ini yang membuat penerbit langsung menarik sebuah komik dari peredaran, karena berpikir komiknya tidak akan menguntungkan. Jadi, komiknya belum diberikan kesempatan berkembang dan dikenal masyarakat. Sementara untuk  bikin lanjutan cerita selanjutnya, kreator sudah “kelelahan”, menurut Irfan dan Donny.

Baca juga: Komik Macan Putih: Kolaborasi Komik Lewat Cloud Storage

Anggapan Positif Orangtua terhadap Komik

Gak bisa dipungkiri kalau komik cenderung punya kesan negatif di mata orangtua. Pasti ada di antara kalian yang waktu kecil mesti sembunyi-sembunyi beli dan baca komik, karena takut dimarahin oranguta. Ya, Irfan dan Donny juga melihat kalau anggapan masyarakat Indonesia tentang komik masih negatif. Padahal, sama saja dengan karya kreatif yang lain, itu tergantung kontennya (well, kalau baca hentai sih mungkin banyakan negatifnya, ya).

Anggapan negatif ini yang perlu diubah dari negatif jadi positif. Mungkin sesimpel orangtua mesti nyari tahu sendiri kali ya, ada komik apa aja sih di perkomikan Indonesia? Ceritanya kayak gimana? Supaya mereka bisa paham kalau gak semua komik itu buruk (eh, malah jadi ngasih parenting advice xD)

Baca juga: Q&A: Sunny Gho, Lewat Kosmik Terbitkan Komik Lokal Indonesia